Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • abrari 7:57 am on 14 September 2012 Permalink | Balas  

    Taqwa 

    قال طلق بن حبيب رحمه الله : التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

    Berkata Thalq bin Habib rahimahullah: Taqwa adalah engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah, di atas nur dari Allah, dengan mengharapkan balasan Allah, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah, di atas nur dari Allah, dengan takut kepada hukuman Allah.

    Iklan
     
  • abrari 12:13 pm on 6 June 2012 Permalink | Balas  

    Bukan dizalimi 

    ظلمت نفسي

    ***

    Kalimat di atas dapat dibaca dengan 2 cara:

    • ظَلَمْتُ نفسي ) bila nafsii sebagai maf’uul, yang berarti “Aku telah menzalimi diriku”
    • ظُلِمَتْ نفسي ) bila nafsii sebagai naa-ibul faa’il, yang berarti “Diriku telah dizalimi”

    Karena judulnya “bukan dizalimi”, maka cara membaca yang pertama yang dipakai, “Aku telah menzalimi diriku”. Sebuah pengakuan yang selayaknya kita ungkapkan untuk bertaubat kepada-Nya…

     
  • abrari 2:03 pm on 30 May 2012 Permalink | Balas  

    Hadiah atau insentif untuk karyawan 

    Barangkali sering dijumpai karyawan yang hanya bekerja dengan giat jika diberi insentif tambahan. Istilahnya, “uang pelicin”. Padahal mereka sudah digaji untuk pekerjaan yang seharusnya memang mereka kerjakan, tetapi kalau tidak diberi tambahan insentif mereka tidak mengerjakannya.

    Ada penjelasan dari ulama mengenai yang seperti ini. Syaikh ‘Utsaimin pernah ditanya tentang insentif yang diberikan kepada karyawan karena ia giat bekerja, dan berikut jawaban ringkasnya:

    Tidak, hadiah tersebut tidaklah tergolong suap selama fungsi hadiah tersebut adalah memotivasi kerja. Akan tetapi, jika karyawan tersebut tidak mau melaksanakan kewajibannya dengan baik kecuali diberi hadiah, maka hadiah untuk karyawan dalam kondisi semisal ini adalah risywah atau suap.

    Hadiah tersebut hukumnya haram bagi si karyawan karena hadiah tersebut adalah hadiah agar si karyawan melakukan kewajibannya sebagaimana mestinya. Sedangkan kaidah dalam masalah ini ialah tidak boleh meminta atau menerima hadiah dalam rangka agar melaksanakan kewajiban.

    Ya, saya adalah karyawan, yang terkadang juga khawatir terjatuh kepada perkara ini (hanya mau melaksanakan kewajiban kalau diberi insentif tambahan, padahal sudah digaji untuk melaksanakan kewajiban yang harus dikerjakan). Semoga kita yang berposisi sebagai karyawan dilindungi Allah dari yang seperti ini.

    Sumber lengkapnya, silakan simak di http://pengusahamuslim.com/halal-haram-komisi-1519.

     
  • abrari 6:19 am on 4 May 2012 Permalink | Balas  

    Untuk beramal shalih 

    Dari khutbah Jum’at siang ini,

    Banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang orang yang sudah mati yang meminta kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia (antara lain Al-Mu’minun: 100). Perhatikanlah, bahwa mereka tidak meminta dikembalikan ke dunia untuk harta mereka, untuk anak mereka, atau untuk keperluan dunia lainnya. Mereka meminta dikembalikan ke dunia untuk beramal shalih. Sesuatu yang dahulunya mereka  tinggalkan ketika masih hidup.

    Karenanya, mumpung masih di dunia, gunakan kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Jangan disepelekan karena kita nggak bisa meminta untuk dikembalikan lagi ke dunia saat sudah wafat untuk memperbanyak amal shalih.

     
  • abrari 11:45 am on 2 April 2012 Permalink | Balas  

    5 kegalauan syar’i 

    Diambil dari sebuah posting di FB.

    PERTAMA
    Kegalauan karena dosa pada masa lampau, karena dia telah melakukan sebuah perbuatan dosa sedangkan dia tidak tahu apakah dosa tersebut diampuni atau tidak. Dalam keadaan tersebut dia harus selalu merasakan kegalauan dan sibuk karenanya.

    KEDUA
    Dia telah melakukan kebaikan, tetapi dia tidak tahu apakah kebaikan tersebut diterima atau tidak.

    KETIGA
    Dia mengetahui kehidupannya yang telah lalu dan apa yang terjadi kepadanya, tetapi dia tidak mengetahui apa yang akan menimpanya pada masa mendatang.

    KEEMPAT
    Dia mengetahui bahwa Allah menyiapkan dua tempat untuk manusia pada hari Kiamat, tetapi dia tidak mengetahui ke manakah dia akan kembali (apakah ke Surga atau ke Neraka).

    KELIMA
    Dia tidak tahu apakah Allah ridha kepadanya atau membencinya?

    Siapa yang merasa galau dengan lima hal ini dalam kehidupannya, maka tidak ada kesempatan baginya untuk tertawa.

    [(Tanbiihul Ghaafiliin (I/213), al Faqih as Samarqandy. Tahqiq ‘Abdul ‘Aziz al Wakil, Darus Syuruuq, 1410H) “Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il”, Penulis ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim].

     
  • abrari 7:14 am on 24 February 2012 Permalink | Balas  

    Tujuan hidup 

    Barangsiapa yang menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan:

    1. Memudahkan urusannya,
    2. Menjadikan rasa kaya dan kecukupan di dalam hatinya,
    3. Menjadikan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina.

    Barangsiapa yang menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan:

    1. Mencerai-beraikan urusannya,
    2. Menjadikan kefakiran dan kemiskinan di depan matanya,
    3. Memberikan kepadanya dunia menurut apa yang telah ditetapkan-Nya.

    [Diambil dari riwayat Tirmidzi dan yang lainnya].

    Mari kita tundukkan dunia, dan jangan tunduk kepada dunia.

     
  • abrari 7:15 am on 13 February 2012 Permalink | Balas  

    Wafatnya Rasulullah 

    “Apabila salah seorang di antara kalian ditimpa musibah, maka hendaknya ia mengingat musibah yang ia alami dengan (wafatnya) diriku. Karena sesungguhnya wafatku adalah musibah yang paling besar.” [HR. Ibnu Sa’ad, Ad-Darimi dan yang lainnya, shahih].

    Qadarullah, hari ini saya tertimpa musibah yang sangat menggoncangkan hati. Maka mari mengingat kisah wafatnya Rasulullah, agar tidak berlarut-larut dalam duka. Potongan akhirnya saja.

    ***

    Fathimah masuk menemui beliau shallallaahu ’alaihi wasallam dan berkata : ”Alangkah berat penderitaan ayah”. Maka beliau menjawab :

    ليس على أبيك كرب بعد اليوم

    ”Setelah hari ini, tidak akan ada lagi penderitaan”.

    Usamah bin Zaid masuk, dan beliau memanggilnya dengan isyarat. Beliau sudah tidak sanggup lagi berbicara dikarenakan sakitnya yang semakin berat.

    Pada saat-saat menjelang ajal, beliau bersandar di dada ’Aisyah. ’Aisyah mengambil siwak pemberian dari saudaranya yang bernama ’Abdurrahman. Ia lalu menggigit siwak tersebut dengan giginya dan kemudian memberikannya kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam. Beliaupun lantas bersiwak dengannya.

    Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana yang berisi air dan membasuh mukanya. Beliau pun bersabda :

    لا إله إلا الله إن للموت سكرات

    ”Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya pada setiap kematian itu ada saat-saat sekarat”.

    Dan ’Aisyah samar-samar masih sempat mendengar sabda beliau :

    مع الذين أنعم الله عليهم

    ”Bersama orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah”.

    Lalu beliau pun berdoa :

    اللهم في الرفيق الأعلى

    ”Ya Allah, pertemukan aku dengan Ar-Rafiiqul-A’laa (Allah)”.

    ’Aisyah mengetahui bahwasannya beliau pada saat itu disuruh memilih, dan beliau pun memilih Ar-Rafiiqul-A’laa (Allah). [HR. Bukhari]

    Akhirnya beliau shallallaahu ’alaihi wasallam pun wafat pada waktu Dhuhaa – dan ada yang mengatakan pada waktu tergelincirnya matahari – sedangkan kepala beliau di pangkuan ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa. Abu Bakr radliyallaahu ’anhu segera masuk, dimana ketika wafatnya beliau shallallaahu ’alaihi wasallam ia tidak berada di tempat. Ia membuka penutup wajah beliau, dan kemudian ia menutupnya kembali dan menciumnya. Ia pun keluar menemui orang-orang. Pada waktu itu, orang-orang berada dalam keadaan percaya dan tidak percaya atas kabar wafatnya beliau shallallaahu ’alaihi wasallam. ’Umar radliyallaahu ’anhu termasuk orang yang tidak percaya atas berita wafatnya beliau tersebut. Orang-orang pun kemudian berkumpul menemui Abu Bakr. Ia (Abu Bakr) pun kemudian berkata :

    أما بعد، من كان منكم يعبد محمدًا فإن محمدًا قد مات، ومن كان منكم يعبد الله فإن الله حي لا يموت. قال الله : (وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ)

    ”Amma ba’du, barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad saat ini telah mati. Dan barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah telah berfirman : ”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Aali ’Imraan : 144)”.

    (Mendengar itu), maka para shahabat pun merasa tenang. Sementara itu, ’Umar radliyallaahu ’anhu duduk di tanah tidak sanggup berdiri. Seakan-akan mereka belum pernah mendengar ayat tersebut melainkan pada saat itu saja. [HR. Bukhari]

    Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, barakah, dan nikmat kepada Nabi-Nya, keluarganya, dan para shahabatnya.

     

     
  • abrari 5:04 pm on 8 February 2012 Permalink | Balas  

    Kapan kita mengenal seseorang? 

    Dari grup Facebook, dari Ustadz Badrussalam.

    Ada seorang laki-laki berkata kepada Umar: “Sesungguhnya si fulan itu orangnya baik”.

    Umar: “Apakah kamu pernah bersafar bersamanya ?”

    Lelaki: “Belum pernah”.

    Umar: “Apakah kamu pernah bermu’amalah dengannya ?”

    Lelaki: “Belum pernah”.

    Umar: “Apakah kamu pernah memberinya amanah ?”

    Lelaki: “Belum pernah”.

    Umar: “Kalau begitu kamu tidak punya ilmu tentangnya. Barangkali kamu hanya melihat dia sholat di masjid”.

    (Mawa’idz shohabah hal. 65).

    Mengapa Umar mempertanyakan tiga perkara ini ya akhi ?

    Karena dengan safar, kita dapat mengetahui karakter dan watak seseorang sesungguhnya..

    Safar adalah bagian dari adzab, capek dan melelahkan, disaat itu akan tampak watak asli seseorang..

    Dengan mu’amalah seperti jual beli dan lainnya, kita dapat mengetahui akhlak seseorang..

    Dan dengan memberi amanah, kita dapat mengetahui kadar amanah dan agama seseorang..

    Sungguh, pertanyaan yang cerdas..
    Yang menunjukkan kepada pengalaman dan keilmuan.

     
  • abrari 3:43 pm on 21 November 2011 Permalink | Balas  

    Salafi 

    Apa yang orang pikir didapatkan dari kajian salaf:

    1. Terorisme, pengeboman
    2. Antisosial

    Apa yang sebenarnya didapatkan:

    1. Pelajaran aqidah dan tauhid yang jelas dan sumbernya sahih
    2. Perintah untuk mengikuti sunnah dalam segala hal
    3. Perintah untuk berbakti kepada orangtua
    4. Perintah untuk taat kepada pemimpin

    Kisah nyata.

     

     
    • arief 3:23 pm on 22 Desember 2011 Permalink | Balas

      Brar, kok latar belakang blognya salju sih? natalan?

      • asfarian 5:56 pm on 28 Desember 2011 Permalink

        Default dari wordpress itu Rif.
        Tapi bisa dimatikan kok.

  • abrari 12:52 pm on 2 April 2010 Permalink | Balas  

    Jangan lihat kebenaran dari jumlah pelakunya 

    Jangan melihat sesuatu itu benar atau salah menurut syari’at hanya dengan melihat jumlah pelakunya. Karena sesungguhnya kebenaran itu adalah apa-apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, meskipun sebagian besar manusia tidak melaksanakannya.

    (More …)

     
    • Miftahgeek 7:52 am on 4 April 2010 Permalink | Balas

      nah kalo yang ini baru nyambung :D ga selamanya nyontek itu benar :D

    • Bang Dje 9:52 am on 9 April 2010 Permalink | Balas

      Ini benar sekali.

      Ada jargon yang saat ini populer sekali dalam bahasa latin yaitu “vox populi vox dei”, yang artinya kurang lebih “Suara rakyat adalah suara tuhan”. Hasilnya kita lihat banyaknya kerusakan di muka bumi ini karena menganggap suara mayoritas adalah kebenaran. Karena masing-masing kelompok merasa yang paling benar. Mereka lalu memaksa kelompok lain untuk mengikutinya. Akibatnya justru berlaku hukum rimba. Yang kuat menindas yang lemah.

      Jargon ini tentu bertentangan dengan ayat di atas. Sebagai seorang muslim kita wajib untuk mengutamakan dan menomorsatukan al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena dari sinilah kita akan menemukan kebenaran sejati.

    • Arief 10:42 pm on 9 April 2010 Permalink | Balas

      Semoga di IPB kenbanyakan orang yang benar ya…

    • bloksaya 7:06 am on 20 Mei 2010 Permalink | Balas

      eh,eh,eh

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal