Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • abrari 10:44 pm on 30 September 2012 Permalink | Balas  

    Menikah 

    Alhamdulillaahi alladzii bi ni’matihii tatimmu ash-shaalihaat.

    Pada Hari Jum’at tanggal 21 Desember 2012, pemilik blog ini telah menggenapkan separuh agamanya.

    Iklan
     
    • WP Graphics review 3:42 pm on 31 Oktober 2012 Permalink | Balas

      You need to take part in a contest for one of the best websites on the internet.

      I will highly recommend this site!

    • syaif 12:01 pm on 3 November 2012 Permalink | Balas

      insyaallah…. untung deket daerah Bantul itu, ya 2-3 km aja dari kampusku….

    • ahmad 1:04 pm on 23 November 2012 Permalink | Balas

      ehm..ehm aku oleh teko ga?opo teko nang kontrakan ae lah,

    • avoir plus de vue sur youtube 1:53 am on 29 Maret 2013 Permalink | Balas

      You need to be a part of a contest for one of the highest quality blogs on the internet.

      I am going to highly recommend this web site!

  • abrari 2:39 pm on 4 August 2012 Permalink | Balas  

    Sekufu dalam hal suku 

    Ikhwan yang telah berniat menyempurnakan separuh dien, ada sedikit saran pribadi dari saya, yaitu: carilah yang sekufu alias setara dalam hal suku. Apakah itu penting? Berdasarkan pengalaman yang tidak perlu diceritakan, itu sangat penting.

    Bukan berarti menafikan bahwa yang utama adalah yang baik agamanya. Tapi suku juga harap dipertimbangkan. Sebuah kenyataan yang tidak mengenakkan bahwa ketika kita sudah disatukan dengan Islam, disatukan dalam naungan sunnah, namun harus berpecah akibat perbedaan suku.

     

     
    • jual madu 10:18 pm on 31 Januari 2014 Permalink | Balas

      thanks for this great, suatu saat pgn kembali kesini lagi :)

    • Warna Melayu 2:19 pm on 28 Oktober 2014 Permalink | Balas

      Makasih atas tulisanya. Saya akan kembali ke sini untuk info selanjutnya.

  • abrari 1:18 pm on 1 June 2012 Permalink | Balas  

    Motor baru (dikirim) 

    Alhamdulillah, hari ini sepeda motor kiriman dari rumah sudah sampai di Bogor. Dikirim hari Selasa kemarin dari Lampung, dan sampai di Bogor tadi pagi via Kantor Pos. Tarifnya cukup mahal juga, sekitar 700 ribu. Tapi memang diharapkan lebih baik dalam pelayanannya, karena kalau dititipkan via bus (tarif lebih murah) katanya sepeda motor tersebut digeletakkan begitu saja di bagasi bus, yang tentunya kurang manusiawi sepedamotorwi.

    Ya, baru setelah lulus kuliah saya dikirimi sepeda motor, karena sewaktu kuliah lebih banyak mengendarai sepeda atau jalan kaki.  Dan waktu sudah kerja harus lebih mobile karena terkadang harus hadir ke tempat di luar daerah sini.

    Beberapa bertanya, kenapa tidak beli di Bogor saja? Jawabannya karena di rumah kendaraan itu tidak dimanfaatkan lagi karena ayah saya mendapat fasilitas sepeda motor dari kantornya. Jadi, daripada tidak dimanfaatkan, lebih baik dikirimkan ke anaknya yang lebih membutuhkan :)

     
  • abrari 1:52 pm on 22 May 2012 Permalink | Balas  

    Komuter 

    Komuter ialah mereka yang pulang pergi dari rumah ke tempat kerjanya dalam jarak yang jauh. Contoh mudahnya ialah mereka yang rumahnya di Bogor dan kerjanya di Jakarta.

    Rekan saya banyak yang menjadi komuter seperti ini. Maklum, karena jurusan Ilmu Komputer biasanya bekerja di perusahaan IT yang biasanya juga terletak di ibukota. Kalau tidak menetap di Jakarta, ya harus menjadi komuter.

    Memang gajinya biasanya besar. Tapi saya sendiri tidak suka menjadi komuter. Berangkat dari rumah pagi buta, dan pulang sampai di rumah pada malam hari, begitu setiap hari kerja (kalau sudah berkeluarga gimana ya?). Ditambah harus berdesak-desakan di kereta, menunggu kemacetan, dan sebagainya. Perjuangan setiap harinya sepertinya cukup berat; istilahnya tua di jalan. Saya yang tidak suka safar tentu tidak akan betah dengan rutinitas seperti itu.

    Kalau mereka bisa menikmati yang demikian, ya tidak masalah.

     
    • asfarian 8:46 am on 26 Juni 2012 Permalink | Balas

      Hahaha. Setuju :)
      Dulu sempat ngakalinnya dengan baca sepanjang perjalanan. Lumayan, dua hari pulang pergi bisa habis satu buku ;)

  • abrari 1:19 am on 15 April 2012 Permalink | Balas  

    Tidak jauh berbeda 

    Beberapa hari yang lalu, diadakan lokakarya untuk menyusun kurikulum baru di departemen. Barangkali ini termasuk program kerja ketua departemen yang baru. Panitianya tentu saja para pejabat dan staf departemen, dan saya yang masih newbie ini juga ikut serta dalam tim.

    Hal yang menarik adalah, bahwa ternyata kepanitiaan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan para mahasiswa dalam hal “mepet-mepet”, hehe. Mungkin memang sudah dipersiapkan, namun ternyata rush hour juga terjadi pada H-1 seperti kalau kepanitiaan dilakukan oleh mahasiswa. Bayangkan saja, suvenir untuk seluruh tamu undangan yang nilainya sekitar 5 juta rupiah baru dibeli malam hari, padahal acaranya besok paginya. Jadilah kami malam hari harus berburu benda-benda yang dibutuhkan. Dan semua baru pulang dari kantor sekitar pukul 9 malam. Hal yang lain terkait molornya waktu saat acara, ini sudah biasa.

    Entahlah, apakah memang yang seperti ini wajar. Idealisme saya mengatakan tidak seharusnya seperti ini, karena yang mepet-mepet biasanya tidak bagus hasilnya. Sekedar idealisme.

     
    • syaif 4:15 pm on 18 April 2012 Permalink | Balas

      di kampusku mirip Mas, dosen itu memang udah sibuk jd apa boleh buat dikerjainnya mepet2 gt…. dosen2 dsini rela nglembur sampai mlem bgt lo Mas… jam 1 (pagi) gtu…. *sya jg sering dilibatkan dlm acra lokakarya kampus….

    • Humble 5:33 am on 29 April 2012 Permalink | Balas

      Staf Departemen juga manusia Indonesia mas, haha

    • moezaik 6:46 am on 18 Juni 2012 Permalink | Balas

      podo wae mas…
      sampai saat ini pun masih disibukkan dengan urusan program studi..
      jadi,masalah penyusunan kurikulum, pengaturan jadwal kuliah, jadwal uas, sampai urusan lokakarya, technical assistance, studium generale yang dadakan sudah terbiasa…

  • abrari 2:32 am on 6 April 2012 Permalink | Balas  

    Nikah? Gundhulmu itu! 

    Alkisah, seorang pemuda dihinggapi gelisah di saat kuliah. Godaan yang mengancam agama dan kehormatannya terasa kian keras mendera. Puasa dan beraktivitas positif telah dilakukannya. Tetapi kadang justru itu! Aktivitas dakwah justru mempertemukannya dengan para akhawat yang menarik hatinya (nah ini nggak bener dakwahnya .red). Hatinya kian gerah. Maka kepada ayahanda dan ibunda dikuatkannya hati untuk berkata, “Pak..Bu..Boleh nggak saya nikah sekarang…?

    Tentu saja ada empat mata yang terbelalak di ruang keluarga selepas isya hari itu.

    “Heh..ngomong apa kamu? Nikah? Nikah? Gundhulmu itu!”

    Kepalanya menunduk.

    “Mbok ya sadar, Nak..”, kali ini terdengar lebih lembut. Sang ibu. “Kamu itu kuliah masih semester berapa?! Bapak dan ibu nggak pernah melarang kamu ikut-ikutan aktivitas…apa itu namanya…e?”

    “Dakwah..”

    “Iya dakwah! Tapi jangan aneh-aneh! Nikah saat kuliah, memangnya anak istrimu mau dikasih makan apa? Dipikirkan yang dalam ya Nak.. Jangan bicarakan lagi masalah nikah sebelum kamu lulus ya!”

    “Tapi, banyak godaan Bu.. Nggak kuat!”

    “Puasa, puasa!! Katanya belajar agama, gitu aja nggak ngerti.”

    “Sudah Pak..Sudah..”, sang ibu menarik tangan ayahnya. Lalu dia ditinggalkan. Sendiri. Tergugu. Wajahnya panas. Matanya berkaca-kaca. Hatinya belah.

    Beberapa semester berlalu, dan esok adalah wisuda yang dinanti-nanti. Maka malam ini adalah saatnya bicara, begitu sang pemuda bergumam dalam hati.

    “Pak..saya sudah lulus..tentang pernikahan..?”

    “Eh, lulus itu artinya kamu pengangguran baru!”

    “Iya Nak..kamu konsentrasi cari kerja dulu ya…”

    Dan ia tak berkata apa-apa lagi. Harapan yang berkecambah telah tersiram air panas.

    Waktu berganti. Dan kini pekerjaan sudah dalam genggaman.

    “Pak..Bu..Emm, saya kan sudah kerja sekarang..”

    “Kerja apa? Serabutan gitu! Tidak nyambung dengan kuliahmu! Hh..Dengarkan! Bapak mau bicara baik-baik. Kamu cari pekerjaan yang mapan dulu. Baru kita bicarakan pernikahan!”

    Pucuk daun harapan kembali pupus, hangus terbakar matahari.

    Tetapi Allah Maha Kuasa. Beberapa tahun berjalan, pekerjaan di sebuah instansi bergengsi pun didapat. Dan berseri-seri wajah pemuda itu menghadap, “Pak..Saya sudah bekerja seperti harapan Bapak..”

    “Lha, kamu itu berangkat kerja saja masih pakai motor yang Bapak belikan. Nanti, ngomongin nikah kalau kamu sudah punya mobil..”

    Dan beberapa tahun kemudian. “Pak..Bu..Saya sudah punya mobil..”

    “Tapi nanti mau tinggal dimana Nak..? Coba ya, kamu usahakan punya rumah dulu..”, kali ini sang ibunda yang lembut hati. Yang ia merasa hilang daya dan lumer sumsum kalau beliau sudah bicara. Ia menyerah lagi.

    Hingga suatu hari. “Pak..Bu..Rumahnya sudah jadi!!! Jadi, kapan saya dinikahkan?”

    Bapak ibunya saling berpandangan. Dan mereka menangis, “Aduh Nak..Umurmu sudah 55..Siapa yang mau?”

    Disadur dari tulisan di internet, dari “Jalan Cinta Para Pejuang” (Salim A Fillah)

     
    • meiz 3:00 am on 6 April 2012 Permalink | Balas

      sedih amat brar..
      moga2 papah mamah”nya” ga gitu hehe.. xD

    • East9_21 2:00 pm on 6 April 2012 Permalink | Balas

      Elu gundul?

    • irham16 6:32 am on 25 April 2012 Permalink | Balas

      kasian bangett.Apa yag disuruh ortunya biar bisa nikah udah diikutin ehh tapi sayang keberu udah tua

  • abrari 4:56 am on 2 April 2012 Permalink | Balas  

    Diterima 

    Drama singkat pagi ini.

    Menemui ketua departemen, kemudian menyerahkan surat lamaran, CV, dan transkrip nilai. Dibaca beberapa saat, kemudian direspon, “Ok, secara umum Anda sudah diterima. Minggu depan mulai masuk ya.”

    Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Cuma staf departemen, tapi semoga bisa jadi sumber ma’isyah. Walaupun jalan Insya Allah masih panjang, kira-kira masih 2-3 tahun lagi baru bisa berstatus sebagai “staf pengajar”.

     
    • iin 2:31 pm on 13 April 2012 Permalink | Balas

      waah , mas abrar saya saluut, selamat ka’, staf di mananya ka??

  • abrari 6:14 am on 31 March 2012 Permalink | Balas  

    Sidang tugas akhir 

    Tanggal 29 Maret kemarin, hari Kamis, telah dilaksanakan ujian sidang tugas akhir saya. Alhamdulillah, lulus dengan sedikit perbaikan pada naskah tulisan skripsi. Jadi, jaraknya tepat seminggu sejak seminar, pada hari dan jam yang sama.

    Dalam bayangan saya, sidang tugas akhir itu mencekam, berat, dan sebagainya. Ternyata tidak sepenuhnya begitu, karena alhamdulillah ternyata lebih ringan dari yang dibayangkan dan tidak terlalu lama (sekitar 1,5 jam). Pertanyaan dari penguji memang ke arah konsep, mempertanyakan alasan penggunaan metode dan sebagainya, tapi tidak “menusuk” seperti yang dibayangkan. Dan untungnya, pembimbing pun ikut membantu menjawab, yaitu meluruskan jawaban saya yang terkadang kurang jelas. Dan pada akhirnya, saya dinyatakan lulus :)

    Late report. Karena banyak kejadian takterduga kemarin. Di antaranya ada salah seorang adik kelas satu jurusan, rahimahallah, yang meninggal akibat kecelakaan. Selain itu, ternyata dosen pembimbing saya malam harinya setelah sidang juga mengalami kecelakaan dan mengalami cedera sehingga masih dirawat di rumah sakit. Syafahullah.

     
  • abrari 6:32 am on 11 March 2012 Permalink | Balas  

    Setelah lulus? 

    Sedikit cerita random.

    Suatu ketika, saya dipanggil untuk menghadap pembimbing skripsi untuk bimbingan seperti biasa. Ternyata di sana juga ada ketua departemen. Jadilah kami diskusi singkat bertiga. Pak ketua departemen bertanya apakah saya memang berminat jadi staf di sana. Saya pun mengiyakan, dan alhamdulillah beliau pun menyetujui.

    Prosesnya memang tidak langsung, tapi beliau bilang bahwa memang diarahkan menjadi dosen di sana berhubung departemen memang kekurangan tenaga pengajar. Sambil melanjutkan kuliah pasca (yang katanya dibiayai departemen), sambil membantu urusan departemen, termasuk menjadi asisten, sebelum nantinya masuk ke “formasi” pengajar. Saat ini pun ada 2 orang senior saya yang sedang menjalani hal serupa.

    Dan beliau menasihati bahwa gaji dosen itu kecil. Saya memaklumi, memang demikian adanya. Tidak apa-apa, yang penting cukup sebagai nafkah bagi keluarga kelak.

    Beliau juga menceritakan bahwa ternyata beliau adalah sahabat ayah saya dahulu ketika masih kuliah. Sama-sama dari daerah Surakarta dan satu kontrakan dengan ayah saya saat masih kuliah.

    Dan saya sendiri sepertinya memang ingin tinggal di Bogor saja. Ada banyak kebaikan yang bisa saya dapatkan di sini. Barangkali sebaiknya mencari pendamping hidup orang Bogor? Hehe :D

    Dan untuk mencapai itu, kata pembimbing skripsi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah : lulus. Semoga terlaksana.

     

     
  • abrari 2:24 am on 24 February 2012 Permalink | Balas  

    Pekerjaan dan kelulusan 

    Tingkat akhir. Lazim bagi mahasiswa Ilmu Komputer untuk mencari pekerjaan meskipun belum lulus. Memang banyak yang demikian, sudah berpenghasilan namun tidak segera ingin lulus. Padahal pihak departemen sendiri melalui para dosen menghimbau mahasiswa untuk menyelesaikan studinya dahulu secepatnya, baru setelah itu terserah mau ke mana.

    Saya sendiri memilih untuk menunda mencari pekerjaan sampai benar-benar lulus, secepatnya. Memang belum bisa membuktikan, tapi saya masih memercayai wejangan dari para pengajar saya bahwa setelah lulus kesempatan mencari pekerjaan jauh lebih besar, dan kemungkinan mendapat pekerjaan yang lebih baik daripada bekerja sebelum lulus juga besar. Juga amanah dari orangtua yang mensyaratkan demikian.

    Namun sebagai “sambilan” di tingkat akhir yang cukup longgar waktunya ini, insyaallah akan membuka usaha kecil-kecilan bersama beberapa rekan. Semoga bisa segera terlaksana.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal