Dunia Bagi Mukmin dan Kuffar

Mungkin antum pernah mendengar hadits Rasulullah yang kira-kira maknanya seperti ini:

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.

Apakah antum paham salah satu faidah hadits tersebut? Cobalah simak kisah salah seorang ulama salaf ahli hadits yang mulia, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah berikut (diceritakan ulang dengan kata-kata yang tidak persis sama).

Syaikh Ibnu Hajar memiliki sebuah kendaraan yang digunakannya untuk berangkat ke tempat kerjanya. Kendaraan itu adalah sebuah kereta kuda (semacam dokar), kendaraan yang terbilang mewah pada zaman itu.

Suatu hari beliau berangkat ke tempat kerjanya menggunakan kendaraannya itu. Lalu beliau bertemu dengan seorang Yahudi penjual minyak yang pekerjaannya berat, pakaiannya lusuh, dan terlihat begitu menderita. Dia berkata kepada Ibnu Hajar, ”Bukankah nabimu pernah bersabda, dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Lalu mengapa engkau memakai kendaraan yang mewah itu sedangkan aku (si Yahudi) mempunyai pekerjaan yang berat seperti ini?”

Lalu Al-Hafidz Ibnu Hajar menjawabnya dengan penjelasan,

“Ya, dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Karena sesungguhnya kenikmatan dunia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan surga yang akan mereka peroleh. Nikmat kendaraanku ini bila dibandingkan dengan surga jika aku memasukinya nanti tidak ada apa-apanya. Maka kenikmatan dunia ini dibandingkan dengan surga adalah seperti penjara.

Sedangkan engkau (si Yahudi), maka penderitaanmu sekarang ini bila dibandingkan dengan sisa neraka nanti juga tidak ada apa-apanya. Maka penderitaanmu dunia ini dibandingkan dengan siksa neraka nanti adalah seperti surga bagimu.”

Setelah mendengar penjelasan tersebut, akhirnya si Yahudi penjual minyak tersebut mengucapkan kalimat syahadat dan masuk Islam…

Nah, begitulah salah satu faidah hadits rasulullah shalallahu’alaihiwasallam tersebut. Jadi bukan berarti kita harus bermiskin-miskin dan menderita seperti terpenjara agar kita menjadi seorang yang mukmin.