Akhirnya Install Linux…

Setelah sekian lama mengembor-gemborkan betapa bagusnya Linux (padahal belum mencoba), akhirnya saya bisa menginstall dan memiliki Linux sendiri di komputer di rumah. Menginstall Linux dimaksudkan untuk mempelajarinya lebih jauh dan untuk merasakan sendiri “kelebihannya”. Mencoba dan mempelajari Linux juga merupakan salah satu proyek untuk liburan semester ini, karena di kampus tidak punya komputer sendiri.

Distro Linux yang saya pilih adalah Ubuntu. Bukan kenapa-kenapa, hanya saja Ubuntu adalah salah satu distro Linux yang paling banyak digunakan dan cukup populer. Selain itu, perjumpaan pertama dengan Ubuntu di kampus telah menimbulkan kesan yang cukup mendalam dan rasa untuk memilikinya (halah).

Untuk mendapatkan distro Linux itu, pertama ane membeli CDnya di kampus, pada seorang kakak kelas yang memang menjual berbagai jenis Linux beserta aksesorisnya. CD yang ane beli adalah Ubuntu versi terbaru, yaitu 8.10 (Intrepid Ibex).

Ane menginstallnya berdampingan dengan Windows (dual-boot). Karena saya adalah benar-benar seorang pemula di Linux, maka saya tidak berani menginstallnya secara beneran. Maksudnya, tidak berani membuat partisi baru di harddisk karena takut dengan resiko data terhapus. Akhirnya ane menginstallnya kedalam Windows dengan Wubi. Dengan Wubi ini, Linux dapat diinstall ke drive Windows (misalnya C:) sebagaimana program biasa, tanpa perlu format-formatan ataupun partisi-partisian. Namun resikonya, performanya tidak akan maksimal.

Setelah diinstall, login, jreeng… Langsung hang! Huh, apa-apaan ini. Akhirnya ane mencari solusinya di internet. Ternyata, versi terbaru Ubuntu 8.10 ini tidak bersahabat dengan VGA ane yang cukup jadul (Intel 82845G), sehingga akhirnya nge-hang. Dari situ pula ane tahu bahwa versi sebelumnya (Ubuntu 8.04, Hardy Heron) tidak ada masalah serupa.

Akhirnya ane pun memutuskan untuk menginstall versi 8.10 dan ingin menggantinya dengan versi 8.04. Karena di kampung halaman saya tidak tahu tempat berjualan CD Linux, maka saya memutuskan untuk melakukan suatu perbuatan nekat, yaitu mendownloadnya sendiri!

Yah, ukurannya cuma 700MB. Karena sudah ada niatan kuat, akhirnya ane lakoni juga. Akhirnya file CD itu bisa didownload dalam total waktu kurang lebih 4 jam, diselingi mati listrik pula. Untung pakai FlashGet, jadi bisa diterusin waktu sudah nyala listriknya :)

Setelah selesai mendownload, file CD itu akhirnya ane burn ke CD. Lalu melakukan prosedur yang sama dengan yang diatas. Selesai diinstall, login, hang, berhasil! Akhirnya Linux dengan segala fiturnya sudah ada di tangan. Tinggal dioprek semaunya, namanya juga lagi belajar.

***

Setelah beberapa lama (2 hari) menggunakan, mengoprek, mengutak-atik disana sini, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya, dapat ane tarik kesimpulan bahwa Linux ternyata biasa-biasa saja :). Berikut beberapa hal yang ane rasakan waktu pertama kali memiliki Linux Ubuntu.

1. Performa

Karena diinstallnya ke partisi milik Windows, maka sistem filenya pun mengikuti Windows. Kita semua tahu bahwa sistem file Windows tidak segesit milik Linux. Maka, performanya pun tidak jauh-jauh daripada Windows, bahkan bisa dikatakan lebih cepetan Windows :(

Namun, ini semua tentu tidak terlepas dari ke-jadul-an komputer ane, juga karena efek-efek grafis yang cukup membebani sistem diaktifkan. Atau mungkin karena Linux tidak sebaik Windows? Entahlah. Yang jelas kebanyakan orang mengaku bahwa Linux mereka lebih cepat daripada Windows.

2. Kemudahan Pemakaian

Jika hanya untuk sekedar “memakai komputer” alias cuma mengetik, mengelola gambar, memainkan multimedia, bermain games, dan sebagainya, Linux sudah semudah Windows. Namun untuk “mengoprek” alias melakukan sesuatu lebih jauh lagi, Ubuntu ini terasa sangat rumit (maklum pemula). Menginstal program, menginstal font, menginstal driver, mengoneksikan internet, mengatur komputer, dan lain-lain harus dilakukan dengan mengetik baris-baris kode perintah di layar Terminal (seperti di DOS). Tapi tak apalah, kan pengen jadi programmer :)

3. Paket Aplikasi

Ternyata Linux sangat bergantung pada koneksi internet untuk menambah atau menginstall program, font, themes, dan komponen-komponennya. Linux menggunakan paket aplikasi dari repository (gudang aplikasi) yang tersedia di internet. Jadi kalau Anda hendak mengutak-atik aplikasi di Linux, Anda sebaiknya punya koneksi internet yang bagus.

Namun bagi mereka yang tidak mempunyai koneksi internet, ada solusi lain, yaitu menginstal dari repository yang bukan dari internet, tapi dari CD/DVD. Kata kakak kelasku, ada sekitar 6 DVD sebagai gudang aplikasi untuk Ubuntu. Dan itu tidak perlu jika Anda hanya pengguna komputer biasa, bukan tukang utak-atik sana-sini.

4. Efek Grafis

Hehe… Inilah salah satu alasan terkuat ane untuk menginstall Linux. Efek grafis di Ubuntu versi 8.04 (dengan Compiz-Fusion) ini memang sangat hebat, mengalahkan Vista manapun :) Bahkan dengan kartu VGA saya yang kuno, efek-efek ini bisa berjalan dengan cukup cepat dan menarik, walaupun ada beberapa efek yang tidak dapat diaktifkan.

Ubuntuku bisa dibikin seperti Vista, Macintosh, XP, dan lain-lain. Saat ini, ane sedang memakai gaya Vista, dan kapan-kapan insyaallah akan mencoba gaya Macintosh. Ini sekedar pamer skrinsut yang ane poto sendiri, bukan nyolong di tempat lain.

Desktop Kubus 3D... Melar kemana-mana ) 

Yah, baru sejauh itulah ane bisa menggunakan Linux. Belajarnya masih harus diteruskan lagi, agar suatu saat nanti bisa benar-benar mendayagunakannya untuk kesejahteraan umat manusia, sebagaimana motto Ubuntu, Linux for human beings

Jadi, kapan Anda mau mulai mencoba?