Ketika Masjid Dijadikan Tempat Promosi

Kampus ane memiliki sebuah masjid pusat yang sangat megah. Lantainya saja ada 3 tingkat, dan konon mampu menampung jamaah sekitar 5000 orang. Masjid ini bisa dibilang merupakan pusat kegiatan Islami di kampus. Ketika Jum’atan, masjid besar ini penuh sesak oleh jamaah shalat Jum’at, sebagaimana masjid pada umumnya yang cuma penuh ketika Jum’atan.

Mungkin karena masjid ini kadang ramai, beberapa oknum memajang iklan produk tertentu di masjid ini, baik berupa selebaran maupun yang ditempel. Sederhana saja, ramai orang = pasar potensial untuk beriklan. Sayangnya, beberapa tempelan menggunakan gambar makhluk bernyawa (hewan dan manusia). Padahal, sudah ada larangan yang jelas dari Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam mengenai hukum gambar makhluk bernyawa, apalagi di tempat suci seperti masjid. Lalu, bagaimana hukumnya memajang iklan produk di masjid?

Pertama, perlu kita ketahui hukum berjualan di dalam masjid. Mari kita perhatikan hadits dari Rasulullah:

Rasulullah shallallaahualaihiwasallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu didalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Dari situ dapat kita ketahui bahwa berjualan di dalam masjid (juga mengumumkan kehilangan) hukumnya tidak boleh. Lalu bagaimana dengan promosi/iklan? Menurut ane, iklan itu sama saja dengan menjual. Kalau misalnya seorang penjual menjajakan dagangannya, maka ia pasti sedang mengiklankan barang dagangannya itu. Iya nggak?

Cuma bedanya, selebaran atau brosur yang ditempel itu tidak bersuara, jadi berjualannya secara pasif dengan menunggu calon pembeli melihat iklan tersebut. Jadi, beriklan atau berpromosi dapat disamakan dengan berjualan. Lagipula, rumah Allah subhanahuwata’ala tidak sepenuhnya dijadikan tempat beriklan. Emangnya warung atau pasar?

Wallohu a’lam.


Dan waktu shalat Jum’at kemarin, ane melihat selebaran yang cukup mengejutkan. Biasanya cuma selebaran artikel islami yang di bawahnya bertuliskan “Jangan dibaca saat khatib sedang berkhutbah”. Tapi kemarin ada selebaran seperti ini (klik untuk memperbesar):

Keterlaluan! Itu tidak hanya sekedar promosi produk saja, melainkan sudah merambah ke sesuatu yang lebih parah lagi (walaupun implisit), yaitu kampanye partai!

Hiks… Rumah Allah yang mulia dijadikan tempat kampanye…

Wallahulmusta’an.


Lihat juga: