Sudah Cukupkah Ilmu Agamamu?

Saat ini, orang yang mau belajar dan menekuni ilmu agama (ilmu syar’i) sudah sangat sedikit, yang banyak adalah yang cuma belajar ilmu syar’i sekedarnya. Misalnya, sekali seminggu menghadiri pengajian (yang kadang cuma banyak lawakannya), membaca buku terjemahan, atau sekedar mengikuti mata pelajaran agama di sekolah yang porsinya sangat kurang. Akibatnya, banyak umat Islam yang buta akan ajaran agamanya dan tidak tahu hal-hal yang wajib diketahui dalam urusan agamanya.

Yang dimaksud ilmu syar’i (agama) di sini, bukanlah sembarang ilmu agama, namun ilmu syar’i yang benar-benar shahih berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan manhaj (pemahaman dan pengamalan) para ulama Salaf (para sahabat Nabi dan generasi sesudahnya).

Memang, kita tidak diwajibkan mempelajari seluruh ilmu dalam agama, karena itu adalah tugas para ulama (QS. At-Taubah: 122). Tapi, ada juga ilmu agama yang wajib diketahui oleh setiap individu muslim. Yaitu ilmu yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah seseorang, dan ilmu pokok Islam yaitu tauhid dan aqidah. Seperti syahadat, shalat, puasa, zakat, haji bagi yang mampu, dsb. Artinya, orang yang mengerjakan shalat, harus belajar dulu tentang shalat yang benar sesuai tuntunan Rasulullah. Juga misalnya kalau kita belum mau menikah, maka kita belum wajib mempelajari ilmu syar’i tentang pernikahan (Abu Hamam, 2008). Intinya, ilmu yang kita butuhkan wajib kita pelajari, dan jika mau mempelajari ilmu dalam hal lain tentu lebih utama.

Yang jadi dilema adalah, pada zaman ini banyak orang yang sudah merasa cukup ilmu agamanya dan tidak mau menerima kebenaran karena sudah dewasa, sudah tua, sudah lulus sekolah, dan beragam alasan aneh lainnya. Ini tentu sebuah bencana. Padahal ilmu agama akan terpakai terus untuk di akhirat. Lantas kenapa jika belajar ilmu dunia, yang notabene gak bakal terpakai untuk akhirat, mereka begitu bersemangat belajar bahkan sampai tua, dan bahkan sampai melalaikan ilmu syar’i? Para imam kaum muslimin apabila dikatakan kepada mereka “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” maka mereka mengatakan “Sampai wafat!”. Al-Hasan ditanya tentang seseorang yang berumur 80 tahun, “Apakah dia masih layak mencari ilmu?” Beliau menjawab, “Jika ia masih layak hidup (maka dia layak mencari ilmu).”

Sekedar info, kata-kata mutiara “Tuntutlah ilmu mulai dari kandungan sampai liang lahat” itu bukan hadits sahih, tapi hadits lemah walaupun maknanya sahih. Juga kata-kata “Tuntutlah ilmu sampai negeri Cina” adalah hadits palsu. Coba lihat buku Hadits-hadits Lemah dan Palsu Populer.

Kembali lagi ke topik. Jadi dapat disimpulkan bahwa menuntut ilmu syar’i tidak ada batasan usianya dan tidak ada batasannya (gak bakal habis dipelajari (QS. Al-Kahfi: 109)).

Juga perhatikan hadits Nabi Shalallahu’alaihiwasallam, artinya, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka akan ia akan dipahamkan dalam urusan agama”.

Jadi, mari kita berlomba-lomba meraih kebaikan dari Allah dengan belajar ilmu syar’i…