Dialog Salafiyyin vs Murobbi Mentoring

Perhatian!
Harap persiapkan mental Anda terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca tulisan ini.

Ini adalah catatan dialog antara seorang Salafiyyin (sebut saja A) dengan seorang Murobbi Mentoring (sebut saja F). Dialog berlangsung hari Rabu tanggal 17 September 2008 melalui SMS. Dialog terjadi atas permintaan seseorang (sebut saja A juga) yang merasa dipaksa ikut mentoring. Berikut dialognya.


A: Assalamu’alaikum. Afwan ana A********* dari Ilkom 42. Ana mau tanya manfaat dari mentoring apa? Antum SR kan? Syukron.
F: Wa’alaikumussalam. Salah satunya penjagaan tsaqofah. Ya kang, ana SR.
A: Penjagaan seperti apa maksud antum?
F: Aktivitas, dilihat dari tsaqofah. Ibadah.
A: Ibadah? Apa mereka harus laporan tentang aktivitas ibadah mereka? Tolong perjelas makna tsaqofah.
F: Laporan dalam artian mengingatkan, kang. Jadi kita tau seperti apa kondisi saudara kita.
A: Masalah tsaqofah gimana? Apa yang antum nasihatin juga antum laksanakan.?
F: Materi-materi keislaman yang umum, kang, cerita-cerita sirah. Memang belum semua yang ana sampaikan ana lakukan. Afwan tapi dengan begitu kita bisa saling ngingetin.
A: Antum nasihatin tapi tidak dilakukan. Apa tau hukumannya? Kelak antum akan mengelilingi neraka sambil menyeret usus antum. Antum belum cukup ilmu bicara agama. Hati-hati salah, dosanya besar. Antum nuntut ilmu dulu, jangan bermodal semangat saja. Jika antum salah, antum menyesatkan mereka semua. Bicara agama harus cukup ilmu. Apa antum sudah hafal juz 30? Bisa bahasa Arab?
F: Benar, ana belum hafal. Bahasa Arab juga belum tahu banyak.
A: Lantas kenapa berani bicara agama? Agama bukan ilmu dunia. Mengajar agama bukan seperti kuliah. Bicara agama ada hubungannya dengan kelurusan agama orang yang antum ajarkan.
F: Ana sampaikan yang ana tau. Apa tidak boleh, harus nunggu ana jadi orang sholeh?
A: Seberapa besar antum tau? Dapat darimana ilmunya? Sudah jelaskah dalilnya, shahih atau tidak? Apa antum hanya dengar tanpa rujuk? Atau hanya tau dari dosen agama? Apa antum juga tafsir al-Quran yang arti bahasa Indonesia?
F: Dari dengar, bacaan, dosen. Tapi ana gak pernah nafsir al-Quran.
A: Apa antum dah tanya dalilnya? Bukannya di mentor memberi kesimpulan dari artinya? Sedangkan antum belum bisa bahasa Arab.
F: Ya, pasti ada inti ajaran dari dalilnya.
A: Baik, bisa kasih contoh, inti ajaran dari dalilnya?
F: Masalah menasihati, An-Nashr.
A: Sudah jelas antum tidak bisa bahasa Arab dengan sembarangan menafsirnya. Ayat itu bermakna nasihat umum. Jika bicara agama bukan hanya sebatas omongan tapi harus dalil yang jelas kandungan maknanya. Sekarang ana tanya, bagaimana pergaulan antum dengan teman wanita, apa antum tunduk pandangan?
F: Ya ana coba menjaga tidak pandangan.
A: Baik, ana percaya. Apa antum tau hukum-hukum puasa yang kita jalanin? Trus kasih mentor tentang puasa? Coba do’a buka puasa.
F: Akhi fillah, ana terhormat sekali dengan diskusi ini. Pertanyaan antum belum bisa dijawab dengan sempurna. Sekarang ana tanya, bagaimana akhlak Rasul terhadap sahabat-sahabatnya?
A: Kenapa gak dijawab do’a buka puasa? Baik ana jawab, akhlak Rasul adalah al-Quran.
F: Baik akh, doa buka shaum yang ana tau memang masih dipertanyakan kesahihannya. Untuk itu ana harap antum mau mengajarkan, ana juga belum bisa bahasa Arab, belum hafal juz 30. Apakah Allah akan menghukum ana?
A: Allah tidak akan menghukum antum yang belum bisa bahasa Arab, belum hafal juz 30. Tapi Allah akan hukum antum karena menyelisihi Rasul-Nya. Ini perkataan ulama tabi’in.

Lalu tidak ada jawaban lagi dari F. Dialog terhenti (mungkin untuk sementar) sampai disini.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari dialog ini…