Gak Usah Pake Imsak

Sebagian besar kaum muslimin (mungkin) memahami bahwa waktu sahur diakhiri pada saat “Imsak”. Padahal kebiasaan berimsak itu bikinan orang-orang, dimana rasulullah shalallahu’alaihiwasallam tidak mengajarkannya. Artinya, penetapan waktu imsak termasuk bid’ah yang diada-adakan. Ikut melakukannya berarti menambah hal baru dalam syari’at Islam yang sudah sempurna ini.

Imsak itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti menahan. Tapi, perlu ditekankan beberapa kali lagi bahwa imsak bukanlah akhir dari waktu sahur. Akhir waktu sahur adalah saat terbit fajar shadiq, yaitu saat masuk waktu subuh. Pas adzan subuh gitu lah. Perhatikan surat dari al-Quran:

“Artinya : Dan makan minumlah sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (Al-Baqarah : 187)

Juga hadits berikut:

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam maka makan dan minumlah kamu hingga mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum, karena ia (Ibnu Ummi Maktum) tidak mengumandangkan adzan sampai terbit fajar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jelas bahwa waktu sahur diakhiri waktu terbit fajar yang ditandai dengan dikumandangkannya adzan shubuh.

Celakanya, sebagian kaum muslimin melarang makan dan minum setelah imsak, dan menganggap bahwa puasanya batal. Kalo sudah seperti ini, ini termasuk mengharamkan apa yang Allah subhanahuwata’ala halalkan karena Allah sendiri membolehkan makan dan minum sampai waktu fajar. Sedangkan mengharamkan apa yang Allah halalkan termasuk kekufuran.

Mungkin sebagian dari mereka beralasan bahwa imsak adalah sebagai bentuk kehati-hatian dalam berpuasa. Padahal kehati-hatian dengan berimsak termasuk berlebih-lebihan dalam beragama (ghuluw), karena Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam sendiri bersabda:

Apabila seorang di antara kamu mendengar panggilan (adzan subuh) sedangkan tempat/nampan makanan masih ada di tangannya, maka hendaknya ia tidak meletakkan tempat makanan itu sebelum ia menghabiskan keperluan (sisa makanan) dari tempat makanan tersebut. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim)

Dengan demikian, berdasarkan hadits tersebut, barangsiapa yang sedang makan sahur, kemudian diterjang terbitnya fajar, padahal di tangannya masih ada sisa makanan dan minuman, maka ia boleh menghabiskan sisa makanan atau minuman itu. Seolah bertentangan dengan ayat al-Quran diatas? Tidak juga. Di al-Quran disebutkan hukumnya secara umum, sedangkan di hadits menjelaskan lebih spesifik lagi. Bukankah hadits itu sebagai penjelasan detail dari al-Quran?

Tapi jangan terus terlalu bermudah-mudah juga, misalnya kita udah makan sahur, terus sengaja dilambat-lambatkan supaya kena pas adzan subuh. Kalo sudah seperti itu namanya “mengakali” hadits dong.

Wallahua’lam.