Sedikit Lebih Lanjut Mengenai Jama’ dan Qashar

Di sekolah mungkin kita sudah belajar mengenai jama’ dan qashar dalam shalat. Tapi mungkin kalo gurunya textbook banget pelajarannya tidak mendalam karena yang di buku biasanya cuma konsep dan prinsip dasarnya saja. Berikut akan ana paparkan beberapa hal yang mungkin tidak didapat dari sekolah dalam hal jama’ dan qashar. Ana dapatkan dari pengajian, yang ngajar temennya Ustadz Ainur Rafiq Ghufron.

Pada mulanya, Pak Ustadz tersebut ditanya,

Misalnya kita sedang dalam perjalanan jauh, lalu kita menjama’ shalat, katakanlah dzuhur dengan ashar dijama’ di waktu dzuhur. Lalu waktu perjalanan berakhir, masih kita dapati waktu untuk shalat ashar. Apakah kita harus shalat ashar lagi?

Pak Ustadz pun menjawab,

Tidak perlu, shalat yang sudah dijama’ dengan shalat dzuhur tadi itu shalatnya sudah sah. Tidak perlu diulangi lagi.

Dari tanya-jawab tersebut, Pak Ustadz menjelaskan lebih lanjut perihal jama’ dan qashar yang saya ternyata baru tahu akan hal tersebut. Berikut beberapa poin penting yang bisa saya ingat dan publikasikan:

  1. Jama’ tidak mewajibkan qashar dan qashar tidak mewajibkan jama’. Maksudnya, kalo kita mau menjama’ tidak wajib disertai mengqashar. Begitu pula sebaliknya, kalo kita mengqashar shalat tidak wajib dijama’.
  2. Jama’ itu sesuai keperluan. Maksudnya tidak harus dalam perjalanan. Jika keadaan sangat tidak memungkinkan, diperbolehkan menjama’ shalat. Dalam hal ini Pak Ustadz mencontohkan seperti saat sedang sakit. Ferdian dari Mas Udin mencontohkannya saat sedang sangat sibuk bekerja. Tapi aku kurang mudeng dengan kriterianya. Tapi ada batasannya, yaitu dengan tidak menjadikannya kebiasaan alias tidak menjadikannya sesuatu yang rutin (rutin menjama’ shalat) dalam jangka waktu yang cukup lama. Dalilnya adalah bahwasanya Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam pernah menjama’ shalat di Madinah, padahal beliau tidak sedang melakukan perjalanan (HR. Bukhari Muslim).
  3. Sedangkan qashar itu khusus untuk safar (dalam perjalanan). Tidak boleh mengqashar shalat kecuali sedang dalam perjalanan (musafir).

Tambahan lagi, jama’ dan qashar itu sedekah dari Allah subhanahuwata’ala (HR. Muslim) maka sudah selayaknya kita menerimanya sebagai suatu keringanan dari Allah untuk hamba-Nya. Tidak usah ragu-ragu ingin menjama’ atau mengqashar shalat jika memang syaratnya terpenuhi. Jangan beranggapan bahwa tidak menjama’ atau mengqashar lebih utama pahalanya, justru kalo menuruti sunnah Rasulullah untuk menjama’ dan mengqashar shalat itulah yang lebih utama.

Wallahua’lam.

Lebih detail dan mendalamnya klik disini