Durasi Shalat Jum’at

Kaum muslimin pada masa sekarang, terutama para khatib Jum’at, banyak yang kurang memerhatikan salah satu sunnah dalam khutbah Jum’at. Sunnah ini berkaitan dengan durasi waktu dalam khutbah Jum’at dan shalat Jum’atnya itu sendiri. Khutbahnya puanjaang banget (terutama di Masjid Al-Hurriyyah) dan shalatnya jauh lebih singkat daripada khutbahnya. Hal ini berbalikan sekaligus bertentangan dengan sabda Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam:

“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah merupakan tanda kedalaman fiqihnya.” (HR. Muslim)

Hadits di atas mensyariatkan bahwa khutbah hendaknya pendek, sedangkan shalatnya lebih panjang. Hal ini menandakan kefaqihan seseorang (tingkat pemahaman agama). Tapi panjang shalatnya bukan panjang yang sampai menyusahkan makmum. Perhatikan pula hadits berikut:

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dalam dua shalat hari raya dan shalat Jum’at: SABBIHISMA RABBIKAL A’LAA dan HAL ATAAKA HADIITSUL GHASYIYAH.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Jika rasulullah dahulu membaca waktu shalat Jum’at 2 surat itu (bukan berarti selalu membaca itu). Itu kan surat-surat pendek dari Juz ‘Amma. Coba bayangkan seberapa pendek khutbahnya. Memang, Rasulullah kalau shalat sangat thuma’ninah dan mungkin cukup lama juga. Tapi khutbahnya lebih pendek dari shalatnya. Bandingkan dengan zaman sekarang. Khutbahnya sampai ½ jam, shalatnya cuma 10 menitan. Khutbahnya 3 kali lebih lama dari shalatnya.

Khutbah yang panjang juga membawa efek negatif alias mudharat, yaitu jama’ah banyak yang jadi mengantuk dan tertidur ketika khutbah Jum’at. Sunnah memang jalan terbaik.

Komentar Ziko:

Kalo di Al-Hurr (Al-Hurriyyah maksudnya .ed) khutbahnya ngelantur.

Wallahu a’lam.