Banjir Khamr di Madinah

Kisah ini dikisahkan kembali dari ceramah Ustadz Abu Hamam.
Kesahihan kisah ini insyaallah terjamin.

Dulu, masih pada masa kenabian Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam, minuman keras (khamr) belum diharamkan. Bahkan para sahabat Rasulullah juga memproduksi, menyimpan, serta mengonsumsi khamr serta melayani tamu dengannya. Ada suatu riwayat yang cukup masyhur, bahwa salah seorang sahabat (lupa namanya) yang mengimami shalat dalam keadaan mabuk, sehingga bacaannya kacau balau. Allah pun menurunkan firmannya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, …” (QS. An-Nisa: 43).

Ya, Allah subhanahuwata’ala belum menyatakan bahwa khamr itu haram. Allah baru menerangkan bahwa tidak diperbolehkan shalat dalam keadaan mabuk.

Sampai suatu ketika, turunlah ayat Allah subhanahuwata’ala yang menyatakan keharaman khamr (ada banyak, salah satunya Al-Maidah: 90). Saat itu juga para sahabat radhiyallahu’anhum yang menyimpan khamr di rumahnya membuang khamr tersebut, ditumpahkan ke jalan-jalan di kota Madinah. Madinah laksana banjir khamr karena sedemikian banyak khamr ditumpahkan…

Dari kisah diatas, dapat diambil pelajaran bahwa sahabat-sahabat Rasulullah adalah manusia-manusia yang memiliki tingkat keimanan dan ketaqwaan yang luar biasa. Begitu ada larangan dari Allah subhanahuwata’ala, saat itu juga mereka menjauhinya. Gak kaya kita (ana dan lainnya), udah ada larangan tetap aja beralasan. Contoh deh para sahabat. Seperti itulah seharusnya seorang mukmin, yaitu sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taati) tanpa alasan macam-macam. Semoga Allah menjadikan kita bisa seperti mereka.

Pelajaran lain yang dapat diambil adalah bahwasanya khamr itu suci, walaupun haram. Suci maksudnya tidak najis. Karena kalo khamr itu najis, para sahabat tidak mungkin membuangnya ke jalan-jalan yang dilalui orang karena membuang najis di jalan yang dilalui orang termasuk perbuatan terlaknat.

Wallahu a’lam.