Parahnya Kuliah

Aku baru sadar bahwa kuliah itu ternyata cukup parah. Maklum, gua belum pernah kuliah sebelumnya. Yang saya maksud “parah” disini adalah dalam hal waktu. Kuliahan ternyata sangat berbeda dengan SMA. Kalau dulu waktu SMA, waktunya tertentu. Sedangkan waktu kuliah acak-acakan. Misalnya hari ini pagi jam segini, besok siang jam segitu, dan sebagainya. Lalu apanya yang parah?

Hal yang menurutku parah adalah jadwal kuliah yang seringkali meng-overwrite waktu shalat. Keparahan yang satu ini dapat mengancam kehidupan akhirat kelak. Walaupun tidak full overwrite, jadwal kuliah dapat membuat kita termasuk golongan orang-orang fasik, yang suka menunda-nunda waktu shalat. Memang tidak setiap hari, tapi tetap saja itu parah.

Pada masa matrikulasi ini untung ana dapat Matematika. Karena yang Kimia ternyata 70% lebih parah. Kalau gua sih telatnya mungkin cuma setengah jam. Tapi anak-anak kimia bisa molor waktu shalatnya sampai 2 jam! Yaitu waktu praktikum, misalnya dari jam 11.00 sampai 14.00, jam 15.00 sampai 17.00, dan seterusnya. Padahal amal yang paling utama adalah shalat tepat pada waktunya.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

“Menuntut ilmu jangan sampai mengganggu ibadah, dan ibadah jangan sampai menghalangi untuk menuntut ilmu.”

Lalu, apa dampaknya?

Dampak yang paling saya khawatirkan adalah terjadinya kebiasaan mengakhirkan waktu shalat dan sudah tidak merasa berdosa lagi. Dan ana merasa bahwa hal itu sudah mulai terjadi pada diri ana, yaitu perasaan tidak berdosa lagi. Na’udzubillah.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas semua keparahan ini?

Kalau kata Ferdian, yang bertanggung jawab adalah pemimpin, alias yang membuat sistem. Itu jika kita merasa berat menunda waktu shalat demi kuliah. Paling tidak ada rasa benci atau tidak ikhlas. Lain halnya jika kita merasa biasa saja menunda shalat, atau dalam artian ikhlas shalatnya molor.

Akhir kata, kami hanya bisa berdo’a

“Rabbanaa yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa ‘alaa diinika.”

“Wahai rabb yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agama-Mu.”

Wallahua’lam.