Asrama TPB, Kehidupan Penuh Cobaan

(Judulnya didramatisasi)

Asrama TPB… Banyak orang yang bilang bahwa kehidupan di asrama ini menyenangkan. Banyak teman, bisa belajar bareng, bisa kenal dengan orang dari bermacam daerah, dan banyak iming-iming lainnya. Tapi bagiku, asrama TPB tidaklah seindah iming-iming kalian. Makin lama tinggal disitu, makin kuat keinginanku untuk segera meninggalkan tempat itu.

Banyak hal yang membuatku sungguh tidak betah tinggal di asrama. Beberapa diantaranya:

Privasi

Yah, sekamar berempat (sekarang bertiga). Satu-satunya tempat yang khusus bagiku hanyalah sebuah lemari tempat menyimpan pakaian, harta, dan beberapa benda-benda. Segala sesuatu di luar lemari itu, mau tidak mau adalah “milik bersama” atau bahkan “milik dia”. Barang milikku beberapa sudah terklaim menjadi milik mereka, sampai jika saat kubutuhkan benda-benda tersebut pergi entah kemana, beberapa lagi benar-benar pergi entah kemana dan tidak kembali.

Teman sekamar

Inilah yang benar-benar memberatkan, inti dari kesusahan tinggal di asrama. Teman sekamar dengan akhlak “pas-pasan”. Rokok, musik, pacaran, perkataan kotor, dan hal-hal khas anak muda gaul lainnya. Kalo lagi beruntung, pulang dari shalat Isya’ ane bakal mendapati kamar penuh dengan asap rokok oleh salah seorang teman sekamar. Hal inilah yang memicu kontravensi antara ane dengan teman sekamar sehingga sekarang tidak ada lagi komunikasi yang efektif antara ane dan mereka. Berbicara dengan mereka kalo hanya benar-benar terpaksa saja, walaupun jika bertemu di jalan masih mau saling menyapa. Sempat terbersit keinginan untuk pindah tinggal di kamar lain.

Pada waktu ujian, suasana kamar menjadi lebih kacau. Dia belajar sambil mendengarkan musik rock (pantes pelajarannya nggak masuk). Karena itu, asrama bukanlah tempat yang cocok untuk belajar. Ia hanya agak cocok untuk tidur, mencuci, dan mandi, hanya itu dan tidak lebih dari itu.

Yah, ane tidak pernah memilih dia ataupun mereka untuk tinggal dalam satu kamar. Ane hanyalah korban dari sistem pengacakan penghuni asrama yang kebetulan mendapat orang-orang seperti mereka untuk tinggal bersama.

Terpencil

Di asrama, kemana-mana jauh. Asrama untuk putra memang cukup terpencil. Walaupun masih masuk area kampus, tapi letaknya di pojok, dipisahkan oleh hutan. Untuk keluar menuju “pusat peradaban” sama saja dengan mendaki bukit karena asrama terletak di lembah. Berbeda dengan asrama putri yang lebih dekat ke pusat peradaban dan tidak lagi terletak di lembah.

Peraturan asrama

Di asrama TPB, ada peraturan batas maksimum pulang malam. Batas itu adalah jam 9 malam. Kalo mau lebih harus izin dulu. Tapi ini cukup merepotkan.

Selain itu, kita juga tidak boleh membawa komputer ataupun alat-alat listrik berdaya tinggi lainnya. Sungguh sebuah siksaan bagi seorang maniak komputer seperti ane.

Keamanan

Keamanan eksternal asrama (dari gangguan dari luar) sudah sangat memadai. Namun keamanan internal masih cukup rendah. Lupa mengunci kamar sebelum tidur bisa mengakibatkan barang-barang berharga Anda lenyap ketika Anda bangun keesokan harinya. Terutama handphone. Sudah beberapa kali ada laporan kehilangan handphone di kamar.

Lain-lain

Kasur kapuk yang banyak kutunya (kutu busuk). Sehingga terkadang ketika bangun tidur mendapati bekas gigitan kutu yang lumayan gatal. Bahkan kutu-kutu tersebut sudah merambah ke pakaian. Sangat sulit untuk diberantas karena mereka sudah hidup “mapan” di dalam kasur dan jumlahnya sedemikian banyak.

Hal-hal diatas barulah beberapa dari sekian kesusahan hidup di asrama, disamping karena jauh dari orang tua dan harus mengurusi diri sendiri. Maklum, anak manja rantau newbie.

Namun, bagaimanapun juga, selain hal-hal diatas asrama TPB adalah tempat tinggal yang menyenangkan, jika saja temen sekamarku adalah orang yang baik dan mengajak kepada kebaikan. Semoga saja ane tetap tabah menghadapi cobaan ini, dan semoga ini dapat menjadi pengalaman bagaimana hidup dalam lingkungan orang-orang yang tidak kita ridhai.

Liburan ini, waktu yang tepat untuk melupakanmu…

Tunggulah 5 bulan lagi, dan aku akan meninggalkanmu wahai asrama…

Betapa senangnya…

15 Tanggapan ke “Asrama TPB, Kehidupan Penuh Cobaan”

  1. a3u5z1i Berkata:

    Daripada temanku..
    Dia pria, tapi ditempatkan di asrama putri…
    Departemen Ilkom juga…
    Ntar ospek juga ketemu…

  2. visakana Berkata:

    asrama tuh,, seru,, ketemu temen-temen baek, pinter2 pula…
    seremnya klo lagi ditinggal sendirian klo lagi liburan, sepi,,, aku benci sepi dan sendiri,, belum lagi cerita horor nan dasyat,, hahaha,,,
    ada enak dan ga’ enaknya lah…
    Enaknya kebersamaan bareng temen-temen,, alhamdulillah temen-temenku ialah temen-temen terbaik yang pernah kutemui…

  3. wq Berkata:

    sabar ess… dari cerita lw itu emang pindah dari asrama adalah keputusan yang bagus karena agama itu tergantung teman. klo nggak pindah ke tempat ane (ikut spmb lagi/simak(program baru kampusku))
    iki solusi paling ampuh ndang-ndang bojo ben ra mumet lan jlimet.

  4. rizqynaldo Berkata:

    sabar sob, ati2 lingkungan bisa membawa pengaruh pd pribadi kita., tapi ane yakin antum g terbawa y kan??ap udah?? hehe
    alhamdulillah temen2 satu kontrakan 1 visi.,
    coba antum ngontrak juga sam temen2 yg sama, ato mbojo kyk kt wq(amt)

  5. East9_21 Berkata:

    Ga bisa bawa komputer?
    Leptop aja…
    Hehehe…

    Together to be Better…

  6. fariz Berkata:

    sepertinya masalah teman sekamar ya brar..

    untung2′an kalo yang ini..

  7. rismaka Berkata:

    Untung ane ga pernah merasakannya. Bagi ane, privasi adalah nomer 1. Ga kebayang deh satu kamar berempat… cowok pula… mending sama istri empat hehehe.

  8. ehmmm Berkata:

    aku juga gitu lo brar.

    sebenarbya se eamng yang paling menggagu itu ya rokok.

    tapi parahnya lagi kadang temen sekamarku itu membawa serta teman sekelasnya.
    ruwamene brar sampek jam siji esok yo urong podo turu

  9. Nash Berkata:

    Pastinya, itulah asrama menuntut kekuatan kita untuk bisa adaptif (ibarat ikan dilaut tapi dirinya tidak ikut asin….)
    emh…teman sekamar “…”, kalo bisa ngerubah temen sekamar jadi baik pahalanya ngalir lho…, sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
    “ujian” ini hanya kecil saja….
    di masyarakat kamu bakal ngerasain bagaimana kompleksnya hidup….diasrama belajar dulu lah mengenal orang, dll.
    bahkan didunia kerja, kita harus bisa menghadapi hal-hal demikian (terutama berhadapan dengan orang)
    sabar…ada saatny untuk kita menjadi lebih bijak menghadapinya OK…

    terbukalah pada realita dan lihat dunia dengan luas dan bijak

  10. pelangi Berkata:

    Assalamu’alaykum.
    asrama??
    saya merasakannya sejak mulai lulus SD(dipaksa masuk ma’had sama ortu) dan saya merasakan punya privasi sendiri pada waktu kuliah mulai bulan april kemarin (1 kamar buat 1 orang).
    yah.. namanya hidup bersama, jadi ya macam2.
    tetapi bersyukurlah akhi, saya dulu malah 1 kamar pernah 50 orang:)

  11. Selamat Tinggal Asrama « Blog-blogan Berkata:

    [...] Maka, dengan dikeluarkannya surat pernyataan kemerdekaan bebas asrama, kami pun meninggalkan tempat bersejarah ini. Meninggalkan sejumlah cerita serta menanggalkan sejumlah penderitaan. [...]

  12. Planet IPB | Selamat Tinggal Asrama Berkata:

    [...] Maka, dengan dikeluarkannya surat pernyataan kemerdekaan bebas asrama, kami pun meninggalkan tempat bersejarah ini. Meninggalkan sejumlah cerita serta menanggalkan sejumlah penderitaan. [...]

  13. ganda Berkata:

    dan sekarang sudah keluar ya?

Tinggalkan Balasan