Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • abrari 3:34 am pada 29 April 2013 Permalink | Balas  

    Pemimpin nonmuslim 

    Kalau yang dijadikan pemimpin nonmuslim, di daerah yang banyak nonmuslimnya, maka kemungkinan dapat banyak suara akan tinggi. Meskipun suara dari nonmuslim juga. Sementara kalau mencalonkan pemimpin muslim, suaranya akan sedikit.

    Sudah jelas tujuannya suara, bukan dakwah.

    Well played, PKS.

     
  • abrari 12:59 am pada 28 April 2013 Permalink | Balas  

    Senjata politik 

    Salah satu senjata penting dalam politik ialah mengagungkan orang partainya sendiri dan mencela orang partai lain. Hal ini juga yang saya temukan dari kader “partai dakwah”, melalui posting mereka di social network. Berbagai media mereka (Islamedia, Dakwatuna, PKSPiyungan) sering menuliskannya, dan kemudian di-share oleh rekan-rekan saya.

    Salah satunya dalam Pilgub Jabar kemarin, bertebaran posting pujian atas perwakilan PKS. Namun bukan hanya itu, posting celaan terhadap calon partai lain juga ada dari mereka.

    Contoh lain yang pernah saya temui, yaitu perendahan mereka kepada Gubernur Jakarta, yang mereka banding-bandingkan dengan Walikota Depok yang merupakan kader mereka. Hal ini terkait kekalahan mereka dalam Pilgub Jakarta.

    Ada juga posting mengenai celaan mereka atas Mendiknas atas kasus UN kemarin. Seolah, jika semua urusan dipegang oleh PKS, semuanya akan berjalan sempurna.

    Inilah konsekuensi berpolitik. Tidak ada husnuzhan, tabayyun, kecuali kepada kader mereka sendiri.

     
  • abrari 10:10 pm pada 27 April 2013 Permalink | Balas  

    Seandainya, dengan suatu rahmat Allah, terpilih pemimpin yang shalih dan menerapkan syariat, tapi bukan dari PKS, apakah PKS masih akan terus “berjuang” mendapatkan kekuasaan?

     
  • abrari 2:07 pm pada 27 April 2013 Permalink | Balas  

    Mereka katakan 

    Mereka, para kader PKS yang setia, sering mengatakan, mari masuk parlemen agar tidak dikuasai oleh orang-orang nonmuslim. Sekarang, mereka sendiri yang memasukkan nonmuslim ke tubuh partainya, agar ikut serta di parlemen.

    Allahul musta’an.

     
  • abrari 8:50 am pada 27 April 2013 Permalink | Balas  

    Tsiqoh kepada qiyadah 

    Merupakan hal yang menarik dari rekan-rekan saya yang kader PKS dalam hal tsiqoh atau percayanya mereka terhadap qiyadah atau petinggi partai. Sampai kesalahan apapun akan dibela. Ya, inilah fanatisme golongan yang sudah dilarang Rasulullah sejak dulu.

    Contoh riil adalah pembelaan mereka kepada qiyadah yang mengucapkan selamat natal. Saya saksikan sendiri, dalil dari nash tidak ada yang mempan. Pokoknya ini kata qiyadah, saya akan bela.

    Contoh lain adalah kasus penangkapan presiden mereka. Entah benar korupsi atau tidak, mereka mengagung-agungkannya secara berlebihan. Seolah beliau adalah seseorang yang ma’sum.

    Wal iyya’udzu billah…

     
  • abrari 8:10 am pada 27 April 2013 Permalink | Balas  

    First impression dan keadaan sekarang 

    Dahulu, waktu saya baru masuk ROHIS di SMA, ada first impression yang menurut saya sangat bagus dari PKS yang direpresentasikan oleh para murobbi. Saya masih ingat, waktu Diklat, kami benar-benar disemangati dalam hal menegakkan Islam, jihad, ghawzul fikri, dan al-wala’ wal-bara’ (loyalitas dan anti-loyalitas) kepada kaum kuffar.

    Ada satu bait syair (sebenarnya nasyid) yang cukup bersemangat dari mereka, dan saya suka dengannya waktu itu:

    Allah adalah tujuan kami

    Rasulullah tauladan kami

    Al-Quran pedoman hidup kami

    Jihad adalah jalan juang kami

    Mati di jalan Allah adalah, cita-cita kami tertinggi

    Tapi sekarang, setelah memerhatikan dari berita-berita (yang terkadang langsung saya cek sumbernya), adanya banyak penyimpangan dalam PKS. Mulai dari pengucapan selamat Natal oleh petingginya, disclaimer bahwa PKS tidak akan menerapkan syariah Islam, qiyadah (pemimpin) yang tersangkut kasus korupsi, pemimpinnya yang ikut tahlilan dan ziarah kubur keramat, dan yang terakhir barangkali diangkatnya legislatif dari kalangan pendeta. Tidak lain semuanya adalah “strategi” politik demi suara, demi tiga besar. Dan tidak ada kader yang boleh mengkritiknya, karena adanya konsep “tsiqoh” atau kepercayaan terhadap qiyadah.

    Saya jadi ingin mengubah bait syair tersebut menjadi seperti berikut:

    Suara adalah tujuan kami

    Qiyadah tauladan kami

    Tsiqoh adalah pedoman kami

    Partai adalah jalan juang kami

    Meraih tiga besar adalah, cita-cita kami tertinggi

    Itulah yang menggambarkan keadaan mereka sekarang. Semoga Allah menunjuki rekan-rekan saya yang sudah terlanjur “tsiqoh” agar tidak memandang kebenaran dari partai, tapi dari kebenaran yang hakiki: Al-Quran wa As-Sunnah dengan pemahaman generasi salaf.

     

     
    • ahmad 11:55 am pada 5 Mei 2013 Permalink | Balas

      ahsanullah ilaik, tetap waspada karena sebagian mereka menyusup ke barisan salafiyin, wallahu a’lam.

  • abrari 7:38 am pada 27 April 2013 Permalink | Balas  

    Kenapa membahas PKS? 

    Saya adalah orang yang anti-politik. Tapi belakangan saya jadi sering membahas satu partai politik, yaitu PKS. Terserah apa kepanjangannya. Yang jelas, posting mengenai PKS akan saya taruh di blog yang sepi ini, sekedar mencurahkan sesuatu (100% kekecewaan) yang kadang terpikirkan.

    Jadi, kenapa membahas PKS?

    Pertama, saya punya “kenang-kenangan” bersama partai ini. Dulu, waktu SMA, saya ikut ROHIS dan memang dekat sekali dengan partai ini. Untungnya, saya tidak sampai menjadi “simpatisan”, sekedar “cukup tahu” saja.

    Kedua, teman-teman saya yang orang baik-baik, shalih wa shalihat, banyak yang merupakan orang partai ini, atau paling tidak merupakan pendukungnya. Bahkan, istri saya adalah mantan salah satu ujung tombak partai ini, yang alhamdulillah beliau sadar ada yang tidak benar di dalamnya.

    Ketiga, bukan hanya sebagai “partai Islam”, partai ini juga melabeli dirinya dengan sebutan “partai dakwah”. Suatu label yang konsekuensinya sangat besar. Sayangnya, label inilah yang menimbulkan banyak sumber kekecewaan dengan sepak terjangnya akhir-akhir ini.

    Akhir tulisan, saya ingin mengutip dari seorang yang memerhatikan partai ini di blog PKSWatch yang sudah ditutupnya, sesuatu yang saya ingin jadi seperti beliau (berhenti memikirkan PKS):

    Kini, alhamdulillah, saya mulai bisa melepaskan PKS dari hati saya, dari pikiran saya, dan saya malah merasa plong. Selamat tinggal PKS. Pembicaraan dan pikiran mengenai PKS sudah sama sekali tidak menarik minat saya lagi, sudah sama seperti ketika membicarakan partai-partai politik yang lain. Dengan hati yang yakin, mantap dan ringan, dengan menyebut asma Allah Ta’ala, saya menyatakan menutup blog ini.

     
  • abrari 10:44 pm pada 30 September 2012 Permalink | Balas  

    Menikah 

    Alhamdulillaahi alladzii bi ni’matihii tatimmu ash-shaalihaat.

    Pada Hari Jum’at tanggal 21 Desember 2012, pemilik blog ini telah menggenapkan separuh agamanya.

     
    • WP Graphics review 3:42 pm pada 31 Oktober 2012 Permalink | Balas

      You need to take part in a contest for one of the best websites on the internet.

      I will highly recommend this site!

    • syaif 12:01 pm pada 3 November 2012 Permalink | Balas

      insyaallah…. untung deket daerah Bantul itu, ya 2-3 km aja dari kampusku….

    • ahmad 1:04 pm pada 23 November 2012 Permalink | Balas

      ehm..ehm aku oleh teko ga?opo teko nang kontrakan ae lah,

    • avoir plus de vue sur youtube 1:53 am pada 29 Maret 2013 Permalink | Balas

      You need to be a part of a contest for one of the highest quality blogs on the internet.

      I am going to highly recommend this web site!

  • abrari 7:57 am pada 14 September 2012 Permalink | Balas  

    Taqwa 

    قال طلق بن حبيب رحمه الله : التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

    Berkata Thalq bin Habib rahimahullah: Taqwa adalah engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah, di atas nur dari Allah, dengan mengharapkan balasan Allah, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah, di atas nur dari Allah, dengan takut kepada hukuman Allah.

     
  • abrari 2:39 pm pada 4 August 2012 Permalink | Balas  

    Sekufu dalam hal suku 

    Ikhwan yang telah berniat menyempurnakan separuh dien, ada sedikit saran pribadi dari saya, yaitu: carilah yang sekufu alias setara dalam hal suku. Apakah itu penting? Berdasarkan pengalaman yang tidak perlu diceritakan, itu sangat penting.

    Bukan berarti menafikan bahwa yang utama adalah yang baik agamanya. Tapi suku juga harap dipertimbangkan. Sebuah kenyataan yang tidak mengenakkan bahwa ketika kita sudah disatukan dengan Islam, disatukan dalam naungan sunnah, namun harus berpecah akibat perbedaan suku.

     

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.